Minggu, 08 Desember 2013

Penggerutu


Sebuah  percakapan antara rakyat dan sang Pemimpin :

Ketika masa kekhalifahan Abu Bakar, dan Umar," kata seorang lelaki pada Ali, "Negara hidup tentram, sejahtera, dan aman. Lalu mengapa ketika masamu menjadi begini? Pemberontakan di mana-mana."

Ali tersenyum, "Karena," jawabnya, "Pada masa kekhalifan Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Sedangkan, pada masaku, rakyatnya seperti kamu."


Ini anekdot? mungkin ...
tapi, ini adalah kisah nyata tentang realita kehidupan. Pertanyaan abadi hingga saat ini. 
"Waktu ni orang mimpin, kok jadi ancur ya? gak kayak yang waktu itu."

Membandingkan kepemimpinan seseorang dengan tujuan mengevaluasi sah-sah saja. Tapi, ketika perbandingan itu bertujuan untuk menjatuhkan kepemimpinan yang sedang berjalan, bagaimana?

Kritik sangat dibutuhkan, memang. Tapi, kritik yang membangun, bagaimana dengan kritik yang menjatuhkan tanpa solusi berarti?

Berhentilah mengutuk gelap, dan mulailah menyalakan lilin!
STOP MENGGERUTU!

Begitulah kebanyakn orang saat ini. Hobi sekali mengutuk kegelapan. Menyumpah serapahi kelam. Namun, tak juga berusaha mencari cahaya.

Jangan sekedar mengkritik, mengatakan ini dan itu adalah salah. Tapi, ketika ditanya, "Bagaimana, yang benar?" Oh ... Tuhan semua bungkam! 

Jadilah lilin, walau membakar diri, ia sumbangkan diri demi mengusir kegelapan. Memberi manfaat.  Tidak seperti para penggerutu, semua salah dimatanya, namun ia tak mengerti kebenaran!

Tak ada Cosmos Rumputpun jadi.



Ketika kecil, merontoki mahkota Bunga Cosmos adalah hobi wajib. Aku dan kawan-kawanku menghitung mahkotanya, lalu kami hamburkan di udara. Begitu seterusnya hingga Bunga-bunga cosmos di kampung kami gundul semua.

Sensasi kala hujan kelopak bunga cosmos itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Kami merasa berada di negeri dongeng.

Bayangan tentang putri-putri yang mempunyai kekuatan mengendalikan tumbuhan seolah telah menyihir kami. Dan kami mampu mengendalikan bunga cosmos.

Tapi, ketika musim kemarau tiba. Kami kebingungan. Tak ada Bunga cosmos. Kekuatan kami menghilang. 

Dan akhirnya, tak ada cosmos rumput pun jadi.

Langit Biru


Salah satu langit biru berkata, "Ketika melihat murid-murid menjengkelkan pasti akan terasa melelahkan. Maka, hadirlah bayangan, bahwa satu diantara mereka kelak, Insya Allah akan menarik tangan kita syurga ..." 

Aku sedikit tertegun membacanya. Lalu, aku mulai mengobrak-abrik ingatan. 
Maka, muncullah bayangan tentang menara pencakar langit. Seorang guru yang asyik bercerita tentang perjalanannya ke luar negeri, sementara seorang muridnya dihukum tanpa penjelasan. Juga seorang guru yang berteriak kalut, kala kami mengaku belum paham. Lalu seorang guru yang memanggil kami dengan panggilan buruk.

Tapi! tunggu! Muncul juga bayangan Langit biru yang luas. Guru-guru yang tak pernah lupa tersenyum. Hanya tersenyum tulus kala marah. Mengangguk takzim jika kami meminta penjelasan ekstra. Memanggil kami dengan panggilan yang baik. Dan aku mulai rindu ...

Kala kusadar kini, aku dipaksa kagum pada menara angkuh yang menunggu rapuh.

Para Pemakmur Masjid


Ketika kecil, aku dan teman-teman pernah di usir dari masjid karna berwudhu untuk shalat. Penjaganya marah dan menuduh kami yang tidak-tidak, "Kalau wudhu di rumah! Masih kecil udah kayak gini! Tukang ngabisin air!" Lho?! Mampir ke masjid saja jarang-jarang. Kok bisa air habis karna kami? Lalu semenjak itu, kami enggan mengunjungi masjid itu. Takut dituduh lagi. Salah siapa?

Tahun-tahun ini, ketika aku dan teman-teman mulai kembali aktif di masjid. Aku dapati banyak hal berubah di sini. Masjid kami makin megah, senang rasanya. Tapi, sikap "Sok kuasa" itu belum juga hilang.
Miris rasanya, ketika melihat wajah ceria adik-adik kami berubah sedih. Mereka di usir dari masjid karna "ribut" katanya.

Saat shalat berjamaah di mulai, aku tambah merasa perih. Kulihat anak-anak yang diusir dengan kata-kata kasar tadi datang berduyun ke masjid. Ya Allah, mereka para pemakmur masjidmu! diusir?!