Jumat, 30 Mei 2014

Hanya Guru yang Tepat






Oleh : Mela Rahmadani
Foto0243_e2.jpg

Kutatap wajahnya, masih sama, tak ada yang berbeda. Wajahnya cantik sekali, hanya saja kali ini tatap matanya sedikit berbeda dari biasanya, begitu sendu. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya hari ini saat kukatakan mungkin kita tidak akan bertemu lagi setiap hari seperti biasanya. Yang kutahu hari ini ia hanya tersenyum. Itu saja. Ia bahkan terus tersenyum saat mobil membawaku pergi meninggalkannya di ujung gang tempat kami habiskan masa kecil bersama, berlari-lari tak tentu arah. Aku tahu kini rasanya perpisahan.
            Minggu pagi, kakiku sudah berpijak di sebuah kota yang sebenarnya  memang sudah tak asing bagiku. Aku lahir di kota ini, bahkan ayahku pun berasal dari kota ini. Kota Bandar Lampung. Hanya saja suasana di sini masih terasa sangat asing. Tak ada lagi suara ayam jantan bersahut-sahutan yang menjadi pengawal pagi. Tak ada juga suara ibu-ibu yang ketika pagi menjelang sibuk menyapu halaman dengan sapu lidi. Yang ada hanya suara deruman motor dan mobil tetangga yang hendak pergi bekerja. Terlebih untukku yang saat itu baru menginjak usia 7 tahun. Sangat aneh rasanya ketika kusadari tak ada anak kecil dikompleks rumahku. Satu-satunya anak di kompleks ini adalah aku. Sisanya adalah adikku, yang saat itu baru berusaia 5 bulan.
            Mereka bilang kota Bandar Lampung itu sangat menyenangkan. Banyak sekali tempat bermain dan taman-taman. Tapi, yang kutemui amat berbeda dari apa yang mereka katakan. Aku hanya melihat deretan ruko tak menarik disepanjang jalan. Di mana taman?
            Juli 2005, orang tuaku memasukan aku ke sekolah dasar negeri di pinggiran kota Bandar Lampung. Dari cerita yang kudengar konon katanya sekolah baruku ini adalah bekas kuburan Cina. Pikiran kecilku saat itu mengatakan sekolah ini pasti seram. Aku sempat menolak pindah ke sekolah negeri. Dulu aku sekolah di sebuah yayasan tempat ayahku bekerja. Yayasan Bustanul ‘Ulum. Kuhabiskan masa kecilku selama 2 tahun di TK Islam Terpadu Bustanul ‘Ulum dan satu tahun di SD IT Bustanul ‘Ulum. Rasanya aneh saja berbaur dengan anak-anak di sekolah negeri.
            Awal-awal aku masuk sekolah, aku masih memakai seragam yayasan dengan kerudung. Lebih aneh lagi rasanya saat aku sempat disuruh membuka kerudung oleh kepala sekolah SD-ku. Jelas saja kakek dan kedua orang tuaku menolak mentah-mentah permintaan itu. Seoarang guru agama di sekolah itu pun membelaku. Jadilah kepala sekolah itu terpojok dan membiarkanku dengan kerudung tetap bebas bersekolah.
            `Di sekolah baru ini, aku adalah satu dari dua orang yang memakai kerudung. Yang lainnya adalah guru agamaku. Ini pemandangan yang aneh. Karena di sekolahku dulu, guru-guruku cantik sekali dengan kerudung yang lebar dan gamis yang lucu. Bertambah aneh rasanya ketika anak-anak di sini saling memanggil dengan sapaan Lu-Gua.Tidak sopan!
Cara belajar di sekolah baru ini juga aneh. Jika biasanya aku masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 13.30 di sini anak seusiaku masuk pukul 07.30 dan pulang pukul 10.00. Di sini juga tak ada perpustakaan dengan rak-rak tinggi, tak ada juga pelajaran tikom, tak ada guru yang mengajarkan musik sambil memainkan organ,tak ada guru yang mendongeng dengan ekspresif. Dan yang paling aneh, pelajaran Al-Qur’an baru sampai Qs. Al-Ikhlas. Aneh sekali karena disekolahku dulu, hafalan sudah menginjak juz 29. Sangat aneh dan berbeda. Hal ini sering kuadukan dengan kedua orangtuaku. Mereka biasanya hanya tersenyum dan menjawab bahwa ada satu pelajaran yang diajarkan di sekolah baruku dan tidak di sekolah lamaku. Pelajaran itu bernama Penyesuaian diri terhadap semua situasi dan pelajaran itu yang sangat berharga. Setelah begitu biasanya aku hanya diam. Mereka tak mengerti rasanya.foto0407_e2.jpg
Mama tercinta


            Dua bulan berada di Bandar Lampung membuatku rindu bertemu dengan teman-temanku di Gang Delta, Lampung Tengah. Ketika itu anak-anak belumlah mempunyai handphone seperti saat ini. Jadi, tak ada sarana sebagai pelapas rindu.
            Kabar mengejutkan datang dari Gang Delta. Pagi itu, aku bersiap hendak pergi ke sekolah ketika ayahku mengatakan bahwa anak perempuan yang pagi itu hanya tersenyum ketika aku mengatakan mungkin kita tidak akan bertemu setiap hari lagi, meninggal dunia. Dunia serasa menyesakkan, karena untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan. Seorang sahabat kecil yang bahkan untuk pergi ke sekolah, mengaji, bermain, dan makan pun bersama. Ketika aku dan kedua orangtuaku bertakziah ke rumahnya, ibunya menatapku lalu berhambur memelukku erat dan terus menangis. Aku tak tahu mengapa. Mungkin ia rindu dengan anaknya. Anak sulungnya yang cantik. Aku tak menagis, aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa kecuali menatap nisan yang hanya diam.
            Sesuatu yang baru selalu lebih menarik bagi seorang anak kecil sepertiku. Lima tahun berlalu setelah kehilangan sahabat kecilku, aku telah temukan banyak pelajaran yang menakjubkan bersama mereka teman-temanku di SDN 5 talang, sekolah negeri bekas kuburan cina.
            Tentang persahabatan, tentang kekeluargaan, segala pelajaran yang kutemukan telah membentukku menjadi seseorang seperti saat ini. Pernah suatu kali, guruku di kelas 6 mengajarkan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Ia bercerita tentang sebuah sampah plastik yang  memberikan kesaksian di hadapan ALLAH SWT. bahwa tangan kami pernah membuangnya di selokan besar depan sekolah, karena tangan kami inilah hilir kota diterjang banjir besar. Bagiku saat itu, hal ini terlalu menakutkan jika benar-benar terjadi. Kebiasaan agar tidak membuang sampah sembarangan meski hanya bungkus permen ini akhirnya kubawa hingga sekarang In Sha Allah.
            Aku memiliki kekaguman tersendiri dengan guruku di kelas 6. Bahkan sampai aku memanggilnya Abi dan Umi untuk istrinya. Mereka bagai orangtuaku sendiri. Aku bercerita banyak hal pada mereka dan mereka juga mengisahkanku banyak hal tentang pelajaran yang luar biasa.
            Hidup terus berjalan, tak mungkin dapat kuceritakan semua kisah menakjubkan yang kualami di sekolah negeri yang dulu sempat kuragukan akan memberikan pendidikan yang luar biasa untukku. Tapi yang pasti aku tak ‘kan mungkin seperti ini andai saja aku tidak bersekolah di sana. Walau mungkin kisahku di sekolah dasar negeri ini tidak seheroik kisah Ikal dan Lintang di SD Muhammadiyah Bangka Belitung.
            Tahun 2010 aku mulai duduk di bangku Menengah Pertama. SMPN 25 Bandar Lampung rupanya sudi menerimaku menuntut ilmu di sana. Di sinilah segalanya bermula, segala tentang ilmu, hidayah, dan rasa kagum. Musholla Baiturrahim SMPN 25 Bandar Lampung menjadi saksi bahwa di sanalah kutemukan keluarga yang sempat hilang. Kutemukan lagi perempuan-perempuan cantik berjilbab lebar dan bergamis lucu. Persis ketika aku bersekolah di SD IT Bustanul ‘Ulum, keluargaku kembali lagi.
            Awal-awal aku duduk dibangku SMP, aku harus menyesuaikan diri lagi, keluar dari zona aman selama aku duduk di sekolah dasar. Butuh waktu memang, mengingat aku bertemu lebih banyak orang dibanding ketika SD.
            Banyak sekali wejangan yang kudapatkan dari sekolah ini. Guru pertama yang kukagumi di kelas 7 pernah berkata bahwasannya amatlah beda antara orang yang merasa memiliki ilmu dengan orang yang merasa dititipi ilmu. Kalimat ini hampir terus terngiang di kepalaku setiap paginya, bagai sebuah sugesti aku takut sekali jika hadirku bagai orang tak tahu diri yang merasa memiliki ilmu.
            Ketika aku duduk di kelas 8, aku dekat dengan seorang guru yang teman-temanku bilang jahat bin galak. Bukan hal yang mudah memang, butuh waktu 2 tahun agar aku bisa mendekatinya. Nyatanya beliau tak se-devil yang mereka pikirkan, beliau amat penyayang bahkan dengan selembar daun dan semut sekali pun. Lab tempatnya mengajar biasanya penuh dengan binatang-binatang jalanan seperti kucing yang rutin beliau beri makan. Aku mengaguminya bukan karena sikapnya yang like a angel in the Heaven dengan para binatang. Tapi, dari satu sisi yang jarang terlihat oleh orang-orang. Idelaismenya sebagai pengajar.
            Banyak sekali pelajaran dari beliau yang jika kutulisakan dengan lembar-lembar kertas yang tersedia tak ‘kan mungkin bisa dipenuhi. Pelajaran yang luar biasa. Bahwasannya dalam hidup ini kita harus mencoba mendengar, merasa, dan melihat apa-apa yang tidak bisa kita dengar, tidak bisa kita lihat, yang tidak seharusnya kita rasa. Aku mencoba memahami konsep ini dan kuterapkan dalam hidup, yang kuilhami adalah tidak semua harus seperti yang kita inginkan. Kita harus mencoba mendengar tiap berita yang buruk sekalipun begitupun dengan rasa dan pendengaran. Luar biasa.
            Tentang cinta, banyak sekali orang yang penasaran pernahkah aku jatuh cinta. Tentu saja pernah, aku jatuh cinta pada mereka yang menganggap aku ada. Aku jatuh cinta pada mereka mengenalkan aku pada sosok perkasa bernama”Ilmu”. Aku jatuh cinta bahkan hingga saat ini.
            Jika kuberikan jawaban ini pada mereka yang bertanya. Meraka akan terus mencercaku, pernahkah aku jatuh cinta. Baiklah akan kukatakan, aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan. Tapi yang pasti aku hanya mampu diam jika kalian sebut namanya. Aku hanya bisa diam jika dia memulai percakapan denganku, aku bahkan tak pernah tahu dia ada di mana saat ini. Kalian bingung? Begitu pun aku. Tapi inilah caraku jatuh cinta dan aku bahagia meski hanya membaca semua tulisannya yang hampir kuhapal. Aku bahagia meski hanya melihatnya dari jauh tanpa harus menyentuhnya, tanpa harus bereteriak histeris ketika ia lewat di hadapanku, tanpa harus memberi berbagai macam kode, tanpa harus memakasanya untuk peka, tanpa harus ia tahu, tanpa harus semua orang tahu bahwa aku sedang jatuh cinta.
            Yang kulakukan hanya menunggunya muncul, lalu pergi ketika ia terlihat. Tak perlu kukatakan di mana aku menunggunya. Yang pasti menunggunya muncul seperti sebuah rutinitas selama 4 tahun terkahir. Aku malu sebenarnya menuliskan ini. Tapi ini adalah bagian dari kisah hidupku yang pantas ditulis.
            Dirumah aku masih mengaji di sebuah TPA yang dibimbing oleh orang yang luar biasa. Suatu kali guruku di TPA pernah bercerita tentang keutamaan shalat subuh berjamaah. Tapi ia tidak hanya bercerita, ia membimbing. Keesokan harinya guruku ini berkeliling beberapa kompleks perumahan mengetuk pintu rumah muridnya sebelum adzan subuh berkumandang, beliau mengajak kami shalat berjamaah bersama di masjid. Ini rutinitas cinta suatu kali beliau berkata. Ini beliau lakukan hingga bertahun-tahun untuk membiasakan kami muridnya shalat berjamaah. Maka tak heran jika tiap waktunya shalat fardhu dan dhuha masjid kompleks rumah selalu ramai dengan kami.
            Hidayah tak pernah memilih dan memilah kepada siapa ia akan bertengger. Semua bergantung pada Sang Empunya, kepada siapakah hendak Dia titipkan sebuah cahaya bernama hidayah itu. Berkat kreativitas guruku di TPA, tetanngga-tetangga kami merasa terenyuh saat melihat dengan sabarnya guru kami setiap pagi menyusul untuk berjamaah. Sehingga mereka kini pun ikut meramaikan masjid. Itulah hidayah dia menyapa hanya pada orang  membuka pintu mengusir gelap.
            Aku merasa senang hidup dikelilingi guru-guru yang luar biasa. Ketika aku duduk di kelas 9 SMP aku sempat merasa aneh dengan seorang guru yang tak pernah marah meski kami pernah mencoba membuatnya marah. Guruku ini justru hanya tersenyum. Dikatakanya suatu kali bahwa kelak diantara kami para muridnya akan ada In Sha Allah yang menuntunnya melalui titian Shiratul Mustaqim, lalu mana mungkin ia setega itu memarahi kami. Ketika itu juga aku sadar  hakikat dari mengajar yang sesungguhnya. Bukan tentang ilmu, bukan juga tentang besarnya tunjangan, tapi tentang pertanggung jawaban dan keikhlasan. Hati ini mendapat suntikan baru menjelang kelulusan.
            Di SMA sungguh belum kutemukan satu hal pun yang menarik, tak ada yang benar-benar mampu menyentuh hatiku hingga terenyuh dan membuatku mengingatnya. Pun dengan para guru yang kutunggu keluwesan hatinya. Aku hanya merasa hampa. Tak lagi kutemukan pelajaran kehidupan yang kutemukan di SD dan SMP, yang kutemukan di SMA hanya target yang harus diselesaikan. Aku merasa menjadi robot, manusai tak merdeka. Aku hanya berharap kelak mungkin dua tahun mendatang akan kutemukan sesuatu yang luar biasa dari SMA-ku SMAN 2 Bandar Lampung yang dapat membuatku mengingatnya hingga akhir hayat. In sha Allah.

Makna Sampah di Sudut Kota



Apa Yang Terjadi?
10bakung.gif
Pencemaran di TPA Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.

Pada hari Senin tanggal 1 Mei 2014, sekitar pukul 17.00 penulis melakukan observasi ke Tempat Pembuangan Akhir Bakung, Bandar Lampung. Perjalanan dari rumah penulis sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor.
            TPA Bakung berada agak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan dikelilingi pepohonan besar dan hutan, tak banyak yang menyangka ternyata di dalam sana terdapat TPA yang sudah tercemar.

foto0347_e2.jpg
Perjalanan menuju TPA Bakung

            Ketika sampai di pintu gerbang TPA, penulis sudah disambut dengan tumpukan limbah dan bau yang sangat menyengat. Meski hari sudah hampir petang, di sana masih terdapat banyak orang dengan segala aktivitasnya. Banyak anak-anak kecil bermain di sana tanpa tahu bahaya, penyakit serta kuman-kuman yang mengancam. Orang-orang dewasa hilir   mudik tanpa peduli bahwa mereka sedang memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan.
            Beberapa orang terlihat sedang mengobrol santai seolah tak terusik dengan bau yang teramat menyengat dari kubangan air disamping mereka yang sudah sangat menghitam.

foto0336_e1.jpg
Limbah air
Foto0330_e1.jpg
Limbah Anorganik

            Meski masih terdapat banyak pepohonan dan semak-semak disekitarnya. Namun, dengan bertambahnya jumlah sampah masyarakat Bandar Lampung kian harinya bisa saja 10 tahun ke depan kawasan ini menjadi gersang dan sangat berbahaya untuk di masuki manusia. Apalagi dijadikan tempat bermain bagi anak-anak sekitar seperti saat ini.
            Sampah yang menumpuk serta barang-barang anorganik yang bertaburan di TPA Bakung sebenarnya menjadi mata pencaharian warga sekitar yang sangat menguntungkan. Banyak sekali warga desa Bakung yang menggantungkan hidupnya dari tumpukan sampah yang terlihat tak berguna ini. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengepul sampah dan pemulung. Namun, justru dari pekerjaan inilah taraf ekonomi mereka meningkat.

Apa Tanggapan Masyarakat?

          Tak ada yang suka tinggal di tempat pembuangan sampah. Lebih-lebih jika bermain di tumpukan sampah seperti anak-anak desa Bakung. Tapi, bagi mereka sampah bak sahabat yang peduli terhadap perut mereka, justru disaat orang-orang merasa jijik terhadap apa yang mereka lakukan.

foto0337_e1.jpg
            Dengan sampah, para kepala keluarga desa Bakung menghidupi sanak keluarganya. Berusaha meningkatkan taraf kesejahteraan dengan menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan sampah yang masuk sekitar 5000 ton per pekannya ini pula, mereka dapat sedikit menabung untuk masa depan.
            Normalisasi yang dilakukan pada tahun 2011 seolah tak menyisakan apa-apa saat ini. Normalisasi yang saat itu menyisakan sekitar 3 gunungan sampah kini sudah kembali penuh dengan gunungan yang menyatu antara satu dan yang lainnya.
TPA Bakung dicanangkan akan tetap digunakan hingga 17 tahun medatang, itu artinya akan ada penumpukan sampah sekitar 5.200.000 ton sampah dari 13 kecamatan di Bandar lampung pada tahun  2031. Itupun jika tidak ada peningkatan volume per minggunya.
Pencemaran TPA Bakung yang memiliki luas sekitar 14,2 ha ini juga menyulut komentar dari beberapa lapisan masyarakat sekitar. Beberapa orang merasa terganggu dengan aroma busuk yang menyebar. Lebih-lebih jika musim hujan tiba. Namun, lagi-lagi demi menghidupi keluarganya dari tumpukan sampah ini mereka rela menahan bau busuk yang sangat menyengat dan terjun langsung mengais rezeki diantara gunungan sampah.


Apa Usaha Pemerintah Untuk Menanggulangi Pencemaran?
         
            “Kami memperoses sampah-sampah organik menjadi kompos, tapi saat ini mesin dan bangunan sedang direnovasi,” ungkap salah satu petugas TPA Bakung, Suhaedi.
            Terkait bau busuk yang amat menyengat, Suhaedi memaparkan bahwa pihaknya sudah meminimalisir dampak tersebut dengan membuat tanggul penahan, supaya ketika musim hujan tiba, air limbah tidak meluas kemana-mana agar tidak seperti pada tahun 2012 lalu yang saat itu, tanggul TPA Bakung sempat jebol karna tidak kuat menampung beban sampah yang meluap karna hujan.

2-bawah.jpg

Apa Usaha Masyarakat Untuk Meminimalisir Pencemaran?
          Sampai saat ini belum ada usaha nyata dari masyarakat sekitar untuk meminimalisir pencemaran. Hal ini dikarenakan:
1.      Kurangnya penyuluhan terhadap pentinganya kebersihan lingkungan.
2.      Rendahnya pendidikan yang dikenyam masyarakat sekitar TPA.
3.      Tidak adanya rasa simpati berlebih terhadap lingkungan.
4.      Berpikir bahwa TPA adalah satu-satunya ladang rezeki, sehingga mereka merasa sah-sah saja terhadap pencemaran lingkungan.


Apa Usul Penulis Terhadap Penanggulangan Pencemaran Di TPA Bakung?

foto0335_e1.jpg
            Di Jepang, sampah mendapat perhatian khusus diantarnya adanya sistem pemilahan terhadap jenis sampah. Apabila seseorang hendak sampahnya diangkut oleh petugas kebersihan ia harus memisahkan sendiri sampahnya menurut jenis yang diteteapkan pemerintah. Misal, sampah botol dengan botol, kaleng dengan kaleng, plastik dengan plastik. Jika ia tidak memisahkan sampahnya sendiri maka sampah itu tidak diangkut hingga berhari-hari dan menyababkan bau busuk disekitar rumah sang emnpunya. Hal ini akhirnya dapat memberikan efek jera dan malu terhadap tetangga sekitar rumah.
Di Jepang sampah dibagi menjadi 4 :
·         Sampah bakar
·         Sampah tidak bakar
·         Sampah daur ulang
·         Sampah besar
Khusus untuk minyak, limbah minyak dijadikan gel.
Lalu sisa pembakaran sampah dijadikan pelapis jalanraya dan sumber pembangkit listrik. Lalu sampah air disuling lalu dibuang ke sungai dalam keadaan bersih.
            Penulis berharap suatu saat indonesia dapat melakukan hal yang sama seperti di Jepang, memanfaatkan sampah seoptimal mungkin.














































397b6d49c676cb1ede0560f5fd5effddb4c19b12_full - Copy.jpg

PENCEMARAN TPA BAKUNG

Anggota :
Mela Rahmadani
Rewinda Kris Wulan Sari

Minggu, 08 Desember 2013

Penggerutu


Sebuah  percakapan antara rakyat dan sang Pemimpin :

Ketika masa kekhalifahan Abu Bakar, dan Umar," kata seorang lelaki pada Ali, "Negara hidup tentram, sejahtera, dan aman. Lalu mengapa ketika masamu menjadi begini? Pemberontakan di mana-mana."

Ali tersenyum, "Karena," jawabnya, "Pada masa kekhalifan Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Sedangkan, pada masaku, rakyatnya seperti kamu."


Ini anekdot? mungkin ...
tapi, ini adalah kisah nyata tentang realita kehidupan. Pertanyaan abadi hingga saat ini. 
"Waktu ni orang mimpin, kok jadi ancur ya? gak kayak yang waktu itu."

Membandingkan kepemimpinan seseorang dengan tujuan mengevaluasi sah-sah saja. Tapi, ketika perbandingan itu bertujuan untuk menjatuhkan kepemimpinan yang sedang berjalan, bagaimana?

Kritik sangat dibutuhkan, memang. Tapi, kritik yang membangun, bagaimana dengan kritik yang menjatuhkan tanpa solusi berarti?

Berhentilah mengutuk gelap, dan mulailah menyalakan lilin!
STOP MENGGERUTU!

Begitulah kebanyakn orang saat ini. Hobi sekali mengutuk kegelapan. Menyumpah serapahi kelam. Namun, tak juga berusaha mencari cahaya.

Jangan sekedar mengkritik, mengatakan ini dan itu adalah salah. Tapi, ketika ditanya, "Bagaimana, yang benar?" Oh ... Tuhan semua bungkam! 

Jadilah lilin, walau membakar diri, ia sumbangkan diri demi mengusir kegelapan. Memberi manfaat.  Tidak seperti para penggerutu, semua salah dimatanya, namun ia tak mengerti kebenaran!

Tak ada Cosmos Rumputpun jadi.



Ketika kecil, merontoki mahkota Bunga Cosmos adalah hobi wajib. Aku dan kawan-kawanku menghitung mahkotanya, lalu kami hamburkan di udara. Begitu seterusnya hingga Bunga-bunga cosmos di kampung kami gundul semua.

Sensasi kala hujan kelopak bunga cosmos itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi kami. Kami merasa berada di negeri dongeng.

Bayangan tentang putri-putri yang mempunyai kekuatan mengendalikan tumbuhan seolah telah menyihir kami. Dan kami mampu mengendalikan bunga cosmos.

Tapi, ketika musim kemarau tiba. Kami kebingungan. Tak ada Bunga cosmos. Kekuatan kami menghilang. 

Dan akhirnya, tak ada cosmos rumput pun jadi.

Langit Biru


Salah satu langit biru berkata, "Ketika melihat murid-murid menjengkelkan pasti akan terasa melelahkan. Maka, hadirlah bayangan, bahwa satu diantara mereka kelak, Insya Allah akan menarik tangan kita syurga ..." 

Aku sedikit tertegun membacanya. Lalu, aku mulai mengobrak-abrik ingatan. 
Maka, muncullah bayangan tentang menara pencakar langit. Seorang guru yang asyik bercerita tentang perjalanannya ke luar negeri, sementara seorang muridnya dihukum tanpa penjelasan. Juga seorang guru yang berteriak kalut, kala kami mengaku belum paham. Lalu seorang guru yang memanggil kami dengan panggilan buruk.

Tapi! tunggu! Muncul juga bayangan Langit biru yang luas. Guru-guru yang tak pernah lupa tersenyum. Hanya tersenyum tulus kala marah. Mengangguk takzim jika kami meminta penjelasan ekstra. Memanggil kami dengan panggilan yang baik. Dan aku mulai rindu ...

Kala kusadar kini, aku dipaksa kagum pada menara angkuh yang menunggu rapuh.

Para Pemakmur Masjid


Ketika kecil, aku dan teman-teman pernah di usir dari masjid karna berwudhu untuk shalat. Penjaganya marah dan menuduh kami yang tidak-tidak, "Kalau wudhu di rumah! Masih kecil udah kayak gini! Tukang ngabisin air!" Lho?! Mampir ke masjid saja jarang-jarang. Kok bisa air habis karna kami? Lalu semenjak itu, kami enggan mengunjungi masjid itu. Takut dituduh lagi. Salah siapa?

Tahun-tahun ini, ketika aku dan teman-teman mulai kembali aktif di masjid. Aku dapati banyak hal berubah di sini. Masjid kami makin megah, senang rasanya. Tapi, sikap "Sok kuasa" itu belum juga hilang.
Miris rasanya, ketika melihat wajah ceria adik-adik kami berubah sedih. Mereka di usir dari masjid karna "ribut" katanya.

Saat shalat berjamaah di mulai, aku tambah merasa perih. Kulihat anak-anak yang diusir dengan kata-kata kasar tadi datang berduyun ke masjid. Ya Allah, mereka para pemakmur masjidmu! diusir?!