Jumat, 30 Mei 2014

Hanya Guru yang Tepat






Oleh : Mela Rahmadani
Foto0243_e2.jpg

Kutatap wajahnya, masih sama, tak ada yang berbeda. Wajahnya cantik sekali, hanya saja kali ini tatap matanya sedikit berbeda dari biasanya, begitu sendu. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya hari ini saat kukatakan mungkin kita tidak akan bertemu lagi setiap hari seperti biasanya. Yang kutahu hari ini ia hanya tersenyum. Itu saja. Ia bahkan terus tersenyum saat mobil membawaku pergi meninggalkannya di ujung gang tempat kami habiskan masa kecil bersama, berlari-lari tak tentu arah. Aku tahu kini rasanya perpisahan.
            Minggu pagi, kakiku sudah berpijak di sebuah kota yang sebenarnya  memang sudah tak asing bagiku. Aku lahir di kota ini, bahkan ayahku pun berasal dari kota ini. Kota Bandar Lampung. Hanya saja suasana di sini masih terasa sangat asing. Tak ada lagi suara ayam jantan bersahut-sahutan yang menjadi pengawal pagi. Tak ada juga suara ibu-ibu yang ketika pagi menjelang sibuk menyapu halaman dengan sapu lidi. Yang ada hanya suara deruman motor dan mobil tetangga yang hendak pergi bekerja. Terlebih untukku yang saat itu baru menginjak usia 7 tahun. Sangat aneh rasanya ketika kusadari tak ada anak kecil dikompleks rumahku. Satu-satunya anak di kompleks ini adalah aku. Sisanya adalah adikku, yang saat itu baru berusaia 5 bulan.
            Mereka bilang kota Bandar Lampung itu sangat menyenangkan. Banyak sekali tempat bermain dan taman-taman. Tapi, yang kutemui amat berbeda dari apa yang mereka katakan. Aku hanya melihat deretan ruko tak menarik disepanjang jalan. Di mana taman?
            Juli 2005, orang tuaku memasukan aku ke sekolah dasar negeri di pinggiran kota Bandar Lampung. Dari cerita yang kudengar konon katanya sekolah baruku ini adalah bekas kuburan Cina. Pikiran kecilku saat itu mengatakan sekolah ini pasti seram. Aku sempat menolak pindah ke sekolah negeri. Dulu aku sekolah di sebuah yayasan tempat ayahku bekerja. Yayasan Bustanul ‘Ulum. Kuhabiskan masa kecilku selama 2 tahun di TK Islam Terpadu Bustanul ‘Ulum dan satu tahun di SD IT Bustanul ‘Ulum. Rasanya aneh saja berbaur dengan anak-anak di sekolah negeri.
            Awal-awal aku masuk sekolah, aku masih memakai seragam yayasan dengan kerudung. Lebih aneh lagi rasanya saat aku sempat disuruh membuka kerudung oleh kepala sekolah SD-ku. Jelas saja kakek dan kedua orang tuaku menolak mentah-mentah permintaan itu. Seoarang guru agama di sekolah itu pun membelaku. Jadilah kepala sekolah itu terpojok dan membiarkanku dengan kerudung tetap bebas bersekolah.
            `Di sekolah baru ini, aku adalah satu dari dua orang yang memakai kerudung. Yang lainnya adalah guru agamaku. Ini pemandangan yang aneh. Karena di sekolahku dulu, guru-guruku cantik sekali dengan kerudung yang lebar dan gamis yang lucu. Bertambah aneh rasanya ketika anak-anak di sini saling memanggil dengan sapaan Lu-Gua.Tidak sopan!
Cara belajar di sekolah baru ini juga aneh. Jika biasanya aku masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 13.30 di sini anak seusiaku masuk pukul 07.30 dan pulang pukul 10.00. Di sini juga tak ada perpustakaan dengan rak-rak tinggi, tak ada juga pelajaran tikom, tak ada guru yang mengajarkan musik sambil memainkan organ,tak ada guru yang mendongeng dengan ekspresif. Dan yang paling aneh, pelajaran Al-Qur’an baru sampai Qs. Al-Ikhlas. Aneh sekali karena disekolahku dulu, hafalan sudah menginjak juz 29. Sangat aneh dan berbeda. Hal ini sering kuadukan dengan kedua orangtuaku. Mereka biasanya hanya tersenyum dan menjawab bahwa ada satu pelajaran yang diajarkan di sekolah baruku dan tidak di sekolah lamaku. Pelajaran itu bernama Penyesuaian diri terhadap semua situasi dan pelajaran itu yang sangat berharga. Setelah begitu biasanya aku hanya diam. Mereka tak mengerti rasanya.foto0407_e2.jpg
Mama tercinta


            Dua bulan berada di Bandar Lampung membuatku rindu bertemu dengan teman-temanku di Gang Delta, Lampung Tengah. Ketika itu anak-anak belumlah mempunyai handphone seperti saat ini. Jadi, tak ada sarana sebagai pelapas rindu.
            Kabar mengejutkan datang dari Gang Delta. Pagi itu, aku bersiap hendak pergi ke sekolah ketika ayahku mengatakan bahwa anak perempuan yang pagi itu hanya tersenyum ketika aku mengatakan mungkin kita tidak akan bertemu setiap hari lagi, meninggal dunia. Dunia serasa menyesakkan, karena untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan. Seorang sahabat kecil yang bahkan untuk pergi ke sekolah, mengaji, bermain, dan makan pun bersama. Ketika aku dan kedua orangtuaku bertakziah ke rumahnya, ibunya menatapku lalu berhambur memelukku erat dan terus menangis. Aku tak tahu mengapa. Mungkin ia rindu dengan anaknya. Anak sulungnya yang cantik. Aku tak menagis, aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa kecuali menatap nisan yang hanya diam.
            Sesuatu yang baru selalu lebih menarik bagi seorang anak kecil sepertiku. Lima tahun berlalu setelah kehilangan sahabat kecilku, aku telah temukan banyak pelajaran yang menakjubkan bersama mereka teman-temanku di SDN 5 talang, sekolah negeri bekas kuburan cina.
            Tentang persahabatan, tentang kekeluargaan, segala pelajaran yang kutemukan telah membentukku menjadi seseorang seperti saat ini. Pernah suatu kali, guruku di kelas 6 mengajarkan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Ia bercerita tentang sebuah sampah plastik yang  memberikan kesaksian di hadapan ALLAH SWT. bahwa tangan kami pernah membuangnya di selokan besar depan sekolah, karena tangan kami inilah hilir kota diterjang banjir besar. Bagiku saat itu, hal ini terlalu menakutkan jika benar-benar terjadi. Kebiasaan agar tidak membuang sampah sembarangan meski hanya bungkus permen ini akhirnya kubawa hingga sekarang In Sha Allah.
            Aku memiliki kekaguman tersendiri dengan guruku di kelas 6. Bahkan sampai aku memanggilnya Abi dan Umi untuk istrinya. Mereka bagai orangtuaku sendiri. Aku bercerita banyak hal pada mereka dan mereka juga mengisahkanku banyak hal tentang pelajaran yang luar biasa.
            Hidup terus berjalan, tak mungkin dapat kuceritakan semua kisah menakjubkan yang kualami di sekolah negeri yang dulu sempat kuragukan akan memberikan pendidikan yang luar biasa untukku. Tapi yang pasti aku tak ‘kan mungkin seperti ini andai saja aku tidak bersekolah di sana. Walau mungkin kisahku di sekolah dasar negeri ini tidak seheroik kisah Ikal dan Lintang di SD Muhammadiyah Bangka Belitung.
            Tahun 2010 aku mulai duduk di bangku Menengah Pertama. SMPN 25 Bandar Lampung rupanya sudi menerimaku menuntut ilmu di sana. Di sinilah segalanya bermula, segala tentang ilmu, hidayah, dan rasa kagum. Musholla Baiturrahim SMPN 25 Bandar Lampung menjadi saksi bahwa di sanalah kutemukan keluarga yang sempat hilang. Kutemukan lagi perempuan-perempuan cantik berjilbab lebar dan bergamis lucu. Persis ketika aku bersekolah di SD IT Bustanul ‘Ulum, keluargaku kembali lagi.
            Awal-awal aku duduk dibangku SMP, aku harus menyesuaikan diri lagi, keluar dari zona aman selama aku duduk di sekolah dasar. Butuh waktu memang, mengingat aku bertemu lebih banyak orang dibanding ketika SD.
            Banyak sekali wejangan yang kudapatkan dari sekolah ini. Guru pertama yang kukagumi di kelas 7 pernah berkata bahwasannya amatlah beda antara orang yang merasa memiliki ilmu dengan orang yang merasa dititipi ilmu. Kalimat ini hampir terus terngiang di kepalaku setiap paginya, bagai sebuah sugesti aku takut sekali jika hadirku bagai orang tak tahu diri yang merasa memiliki ilmu.
            Ketika aku duduk di kelas 8, aku dekat dengan seorang guru yang teman-temanku bilang jahat bin galak. Bukan hal yang mudah memang, butuh waktu 2 tahun agar aku bisa mendekatinya. Nyatanya beliau tak se-devil yang mereka pikirkan, beliau amat penyayang bahkan dengan selembar daun dan semut sekali pun. Lab tempatnya mengajar biasanya penuh dengan binatang-binatang jalanan seperti kucing yang rutin beliau beri makan. Aku mengaguminya bukan karena sikapnya yang like a angel in the Heaven dengan para binatang. Tapi, dari satu sisi yang jarang terlihat oleh orang-orang. Idelaismenya sebagai pengajar.
            Banyak sekali pelajaran dari beliau yang jika kutulisakan dengan lembar-lembar kertas yang tersedia tak ‘kan mungkin bisa dipenuhi. Pelajaran yang luar biasa. Bahwasannya dalam hidup ini kita harus mencoba mendengar, merasa, dan melihat apa-apa yang tidak bisa kita dengar, tidak bisa kita lihat, yang tidak seharusnya kita rasa. Aku mencoba memahami konsep ini dan kuterapkan dalam hidup, yang kuilhami adalah tidak semua harus seperti yang kita inginkan. Kita harus mencoba mendengar tiap berita yang buruk sekalipun begitupun dengan rasa dan pendengaran. Luar biasa.
            Tentang cinta, banyak sekali orang yang penasaran pernahkah aku jatuh cinta. Tentu saja pernah, aku jatuh cinta pada mereka yang menganggap aku ada. Aku jatuh cinta pada mereka mengenalkan aku pada sosok perkasa bernama”Ilmu”. Aku jatuh cinta bahkan hingga saat ini.
            Jika kuberikan jawaban ini pada mereka yang bertanya. Meraka akan terus mencercaku, pernahkah aku jatuh cinta. Baiklah akan kukatakan, aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan. Tapi yang pasti aku hanya mampu diam jika kalian sebut namanya. Aku hanya bisa diam jika dia memulai percakapan denganku, aku bahkan tak pernah tahu dia ada di mana saat ini. Kalian bingung? Begitu pun aku. Tapi inilah caraku jatuh cinta dan aku bahagia meski hanya membaca semua tulisannya yang hampir kuhapal. Aku bahagia meski hanya melihatnya dari jauh tanpa harus menyentuhnya, tanpa harus bereteriak histeris ketika ia lewat di hadapanku, tanpa harus memberi berbagai macam kode, tanpa harus memakasanya untuk peka, tanpa harus ia tahu, tanpa harus semua orang tahu bahwa aku sedang jatuh cinta.
            Yang kulakukan hanya menunggunya muncul, lalu pergi ketika ia terlihat. Tak perlu kukatakan di mana aku menunggunya. Yang pasti menunggunya muncul seperti sebuah rutinitas selama 4 tahun terkahir. Aku malu sebenarnya menuliskan ini. Tapi ini adalah bagian dari kisah hidupku yang pantas ditulis.
            Dirumah aku masih mengaji di sebuah TPA yang dibimbing oleh orang yang luar biasa. Suatu kali guruku di TPA pernah bercerita tentang keutamaan shalat subuh berjamaah. Tapi ia tidak hanya bercerita, ia membimbing. Keesokan harinya guruku ini berkeliling beberapa kompleks perumahan mengetuk pintu rumah muridnya sebelum adzan subuh berkumandang, beliau mengajak kami shalat berjamaah bersama di masjid. Ini rutinitas cinta suatu kali beliau berkata. Ini beliau lakukan hingga bertahun-tahun untuk membiasakan kami muridnya shalat berjamaah. Maka tak heran jika tiap waktunya shalat fardhu dan dhuha masjid kompleks rumah selalu ramai dengan kami.
            Hidayah tak pernah memilih dan memilah kepada siapa ia akan bertengger. Semua bergantung pada Sang Empunya, kepada siapakah hendak Dia titipkan sebuah cahaya bernama hidayah itu. Berkat kreativitas guruku di TPA, tetanngga-tetangga kami merasa terenyuh saat melihat dengan sabarnya guru kami setiap pagi menyusul untuk berjamaah. Sehingga mereka kini pun ikut meramaikan masjid. Itulah hidayah dia menyapa hanya pada orang  membuka pintu mengusir gelap.
            Aku merasa senang hidup dikelilingi guru-guru yang luar biasa. Ketika aku duduk di kelas 9 SMP aku sempat merasa aneh dengan seorang guru yang tak pernah marah meski kami pernah mencoba membuatnya marah. Guruku ini justru hanya tersenyum. Dikatakanya suatu kali bahwa kelak diantara kami para muridnya akan ada In Sha Allah yang menuntunnya melalui titian Shiratul Mustaqim, lalu mana mungkin ia setega itu memarahi kami. Ketika itu juga aku sadar  hakikat dari mengajar yang sesungguhnya. Bukan tentang ilmu, bukan juga tentang besarnya tunjangan, tapi tentang pertanggung jawaban dan keikhlasan. Hati ini mendapat suntikan baru menjelang kelulusan.
            Di SMA sungguh belum kutemukan satu hal pun yang menarik, tak ada yang benar-benar mampu menyentuh hatiku hingga terenyuh dan membuatku mengingatnya. Pun dengan para guru yang kutunggu keluwesan hatinya. Aku hanya merasa hampa. Tak lagi kutemukan pelajaran kehidupan yang kutemukan di SD dan SMP, yang kutemukan di SMA hanya target yang harus diselesaikan. Aku merasa menjadi robot, manusai tak merdeka. Aku hanya berharap kelak mungkin dua tahun mendatang akan kutemukan sesuatu yang luar biasa dari SMA-ku SMAN 2 Bandar Lampung yang dapat membuatku mengingatnya hingga akhir hayat. In sha Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar