Oleh : Mela Rahmadani

Kutatap
wajahnya, masih sama, tak ada yang berbeda. Wajahnya cantik sekali, hanya saja
kali ini tatap matanya sedikit berbeda dari biasanya, begitu sendu. Aku tak
tahu apa yang ada dalam pikirannya hari ini saat kukatakan mungkin kita tidak
akan bertemu lagi setiap hari seperti biasanya. Yang kutahu hari ini ia hanya
tersenyum. Itu saja. Ia bahkan terus tersenyum saat mobil membawaku pergi
meninggalkannya di ujung gang tempat kami habiskan masa kecil bersama,
berlari-lari tak tentu arah. Aku tahu kini rasanya perpisahan.
Minggu pagi,
kakiku sudah berpijak di sebuah kota yang sebenarnya memang sudah tak asing bagiku. Aku lahir di
kota ini, bahkan ayahku pun berasal dari kota ini. Kota Bandar Lampung. Hanya saja
suasana di sini masih terasa sangat asing. Tak ada lagi suara ayam jantan
bersahut-sahutan yang menjadi pengawal pagi. Tak ada juga suara ibu-ibu yang
ketika pagi menjelang sibuk menyapu halaman dengan sapu lidi. Yang ada hanya
suara deruman motor dan mobil tetangga yang hendak pergi bekerja. Terlebih
untukku yang saat itu baru menginjak usia 7 tahun. Sangat aneh rasanya ketika
kusadari tak ada anak kecil dikompleks rumahku. Satu-satunya anak di kompleks
ini adalah aku. Sisanya adalah adikku, yang saat itu baru berusaia 5 bulan.
Mereka bilang kota
Bandar Lampung itu sangat menyenangkan. Banyak sekali tempat bermain dan taman-taman.
Tapi, yang kutemui amat berbeda dari apa yang mereka katakan. Aku hanya melihat
deretan ruko tak menarik disepanjang jalan. Di mana taman?
Juli 2005, orang
tuaku memasukan aku ke sekolah dasar negeri di pinggiran kota Bandar Lampung.
Dari cerita yang kudengar konon katanya sekolah baruku ini adalah bekas kuburan
Cina. Pikiran kecilku saat itu mengatakan sekolah ini pasti seram. Aku sempat
menolak pindah ke sekolah negeri. Dulu aku sekolah di sebuah yayasan tempat
ayahku bekerja. Yayasan Bustanul ‘Ulum. Kuhabiskan masa kecilku selama 2 tahun
di TK Islam Terpadu Bustanul ‘Ulum dan satu tahun di SD IT Bustanul ‘Ulum.
Rasanya aneh saja berbaur dengan anak-anak di sekolah negeri.
Awal-awal aku
masuk sekolah, aku masih memakai seragam yayasan dengan kerudung. Lebih aneh
lagi rasanya saat aku sempat disuruh membuka kerudung oleh kepala sekolah SD-ku.
Jelas saja kakek dan kedua orang tuaku menolak mentah-mentah permintaan itu.
Seoarang guru agama di sekolah itu pun membelaku. Jadilah kepala sekolah itu
terpojok dan membiarkanku dengan kerudung tetap bebas bersekolah.
`Di sekolah baru
ini, aku adalah satu dari dua orang yang memakai kerudung. Yang lainnya adalah
guru agamaku. Ini pemandangan yang aneh. Karena di sekolahku dulu, guru-guruku
cantik sekali dengan kerudung yang lebar dan gamis yang lucu. Bertambah aneh
rasanya ketika anak-anak di sini saling memanggil dengan sapaan Lu-Gua.Tidak
sopan!
Cara
belajar di sekolah baru ini juga aneh. Jika biasanya aku masuk pukul 07.00 dan
pulang pukul 13.30 di sini anak seusiaku masuk pukul 07.30 dan pulang pukul
10.00. Di sini juga tak ada perpustakaan dengan rak-rak tinggi, tak ada juga
pelajaran tikom, tak ada guru yang mengajarkan musik sambil memainkan organ,tak
ada guru yang mendongeng dengan ekspresif. Dan yang paling aneh, pelajaran
Al-Qur’an baru sampai Qs. Al-Ikhlas. Aneh sekali karena disekolahku dulu,
hafalan sudah menginjak juz 29. Sangat aneh dan berbeda. Hal ini sering
kuadukan dengan kedua orangtuaku. Mereka biasanya hanya tersenyum dan menjawab
bahwa ada satu pelajaran yang diajarkan di sekolah baruku dan tidak di sekolah
lamaku. Pelajaran itu bernama Penyesuaian diri terhadap semua situasi dan
pelajaran itu yang sangat berharga. Setelah begitu biasanya aku hanya diam.
Mereka tak mengerti rasanya.

Mama
tercinta
Dua bulan berada
di Bandar Lampung membuatku rindu bertemu dengan teman-temanku di Gang Delta,
Lampung Tengah. Ketika itu anak-anak belumlah mempunyai handphone seperti saat
ini. Jadi, tak ada sarana sebagai pelapas rindu.
Kabar mengejutkan
datang dari Gang Delta. Pagi itu, aku bersiap hendak pergi ke sekolah ketika
ayahku mengatakan bahwa anak perempuan yang pagi itu hanya tersenyum ketika aku
mengatakan mungkin kita tidak akan bertemu setiap hari lagi, meninggal dunia.
Dunia serasa menyesakkan, karena untuk pertama kalinya aku merasa kehilangan.
Seorang sahabat kecil yang bahkan untuk pergi ke sekolah, mengaji, bermain, dan
makan pun bersama. Ketika aku dan kedua orangtuaku bertakziah ke rumahnya,
ibunya menatapku lalu berhambur memelukku erat dan terus menangis. Aku tak tahu
mengapa. Mungkin ia rindu dengan anaknya. Anak sulungnya yang cantik. Aku tak
menagis, aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa kecuali menatap nisan yang
hanya diam.
Sesuatu yang baru
selalu lebih menarik bagi seorang anak kecil sepertiku. Lima tahun berlalu
setelah kehilangan sahabat kecilku, aku telah temukan banyak pelajaran yang
menakjubkan bersama mereka teman-temanku di SDN 5 talang, sekolah negeri bekas
kuburan cina.
Tentang
persahabatan, tentang kekeluargaan, segala pelajaran yang kutemukan telah
membentukku menjadi seseorang seperti saat ini. Pernah suatu kali, guruku di
kelas 6 mengajarkan tentang kepedulian terhadap lingkungan. Ia bercerita
tentang sebuah sampah plastik yang
memberikan kesaksian di hadapan ALLAH SWT. bahwa tangan kami pernah
membuangnya di selokan besar depan sekolah, karena tangan kami inilah hilir
kota diterjang banjir besar. Bagiku saat itu, hal ini terlalu menakutkan jika
benar-benar terjadi. Kebiasaan agar tidak membuang sampah sembarangan meski hanya
bungkus permen ini akhirnya kubawa hingga sekarang In Sha Allah.
Aku memiliki
kekaguman tersendiri dengan guruku di kelas 6. Bahkan sampai aku memanggilnya Abi
dan Umi untuk istrinya. Mereka bagai orangtuaku sendiri. Aku bercerita
banyak hal pada mereka dan mereka juga mengisahkanku banyak hal tentang
pelajaran yang luar biasa.
Hidup terus
berjalan, tak mungkin dapat kuceritakan semua kisah menakjubkan yang kualami di
sekolah negeri yang dulu sempat kuragukan akan memberikan pendidikan yang luar
biasa untukku. Tapi yang pasti aku tak ‘kan mungkin seperti ini andai saja aku
tidak bersekolah di sana. Walau mungkin kisahku di sekolah dasar negeri ini
tidak seheroik kisah Ikal dan Lintang di SD Muhammadiyah Bangka Belitung.
Tahun 2010 aku
mulai duduk di bangku Menengah Pertama. SMPN 25 Bandar Lampung rupanya sudi
menerimaku menuntut ilmu di sana. Di sinilah segalanya bermula, segala tentang
ilmu, hidayah, dan rasa kagum. Musholla Baiturrahim SMPN 25 Bandar Lampung menjadi
saksi bahwa di sanalah kutemukan keluarga yang sempat hilang. Kutemukan lagi perempuan-perempuan
cantik berjilbab lebar dan bergamis lucu. Persis ketika aku bersekolah di SD IT
Bustanul ‘Ulum, keluargaku kembali lagi.
Awal-awal aku
duduk dibangku SMP, aku harus menyesuaikan diri lagi, keluar dari zona aman
selama aku duduk di sekolah dasar. Butuh waktu memang, mengingat aku bertemu
lebih banyak orang dibanding ketika SD.
Banyak sekali wejangan
yang kudapatkan dari sekolah ini. Guru pertama yang kukagumi di kelas 7 pernah
berkata bahwasannya amatlah beda antara orang yang merasa memiliki ilmu dengan
orang yang merasa dititipi ilmu. Kalimat ini hampir terus terngiang di kepalaku
setiap paginya, bagai sebuah sugesti aku takut sekali jika hadirku bagai orang
tak tahu diri yang merasa memiliki ilmu.
Ketika aku duduk
di kelas 8, aku dekat dengan seorang guru yang teman-temanku bilang jahat
bin galak. Bukan hal yang mudah memang, butuh waktu 2 tahun agar aku bisa
mendekatinya. Nyatanya beliau tak se-devil yang mereka pikirkan, beliau
amat penyayang bahkan dengan selembar daun dan semut sekali pun. Lab tempatnya
mengajar biasanya penuh dengan binatang-binatang jalanan seperti kucing yang
rutin beliau beri makan. Aku mengaguminya bukan karena sikapnya yang like a
angel in the Heaven dengan para binatang. Tapi, dari satu sisi yang jarang
terlihat oleh orang-orang. Idelaismenya sebagai pengajar.
Banyak sekali
pelajaran dari beliau yang jika kutulisakan dengan lembar-lembar kertas yang
tersedia tak ‘kan mungkin bisa dipenuhi. Pelajaran yang luar biasa. Bahwasannya
dalam hidup ini kita harus mencoba mendengar, merasa, dan melihat apa-apa yang
tidak bisa kita dengar, tidak bisa kita lihat, yang tidak seharusnya kita rasa.
Aku mencoba memahami konsep ini dan kuterapkan dalam hidup, yang kuilhami adalah
tidak semua harus seperti yang kita inginkan. Kita harus mencoba mendengar tiap
berita yang buruk sekalipun begitupun dengan rasa dan pendengaran. Luar biasa.
Tentang cinta,
banyak sekali orang yang penasaran pernahkah aku jatuh cinta. Tentu saja
pernah, aku jatuh cinta pada mereka yang menganggap aku ada. Aku jatuh cinta
pada mereka mengenalkan aku pada sosok perkasa bernama”Ilmu”. Aku jatuh cinta
bahkan hingga saat ini.
Jika kuberikan
jawaban ini pada mereka yang bertanya. Meraka akan terus mencercaku, pernahkah
aku jatuh cinta. Baiklah akan kukatakan, aku tak tahu apakah ini cinta atau
bukan. Tapi yang pasti aku hanya mampu diam jika kalian sebut namanya. Aku hanya
bisa diam jika dia memulai percakapan denganku, aku bahkan tak pernah tahu dia
ada di mana saat ini. Kalian bingung? Begitu pun aku. Tapi inilah caraku jatuh
cinta dan aku bahagia meski hanya membaca semua tulisannya yang hampir kuhapal.
Aku bahagia meski hanya melihatnya dari jauh tanpa harus menyentuhnya, tanpa
harus bereteriak histeris ketika ia lewat di hadapanku, tanpa harus memberi
berbagai macam kode, tanpa harus memakasanya untuk peka, tanpa
harus ia tahu, tanpa harus semua orang tahu bahwa aku sedang jatuh cinta.
Yang kulakukan
hanya menunggunya muncul, lalu pergi ketika ia terlihat. Tak perlu kukatakan di
mana aku menunggunya. Yang pasti menunggunya muncul seperti sebuah rutinitas
selama 4 tahun terkahir. Aku malu sebenarnya menuliskan ini. Tapi ini adalah
bagian dari kisah hidupku yang pantas ditulis.
Dirumah aku masih
mengaji di sebuah TPA yang dibimbing oleh orang yang luar biasa. Suatu kali
guruku di TPA pernah bercerita tentang keutamaan shalat subuh berjamaah. Tapi
ia tidak hanya bercerita, ia membimbing. Keesokan harinya guruku ini
berkeliling beberapa kompleks perumahan mengetuk pintu rumah muridnya sebelum
adzan subuh berkumandang, beliau mengajak kami shalat berjamaah bersama di
masjid. Ini rutinitas cinta suatu kali beliau berkata. Ini beliau lakukan
hingga bertahun-tahun untuk membiasakan kami muridnya shalat berjamaah. Maka
tak heran jika tiap waktunya shalat fardhu dan dhuha masjid kompleks rumah
selalu ramai dengan kami.
Hidayah tak pernah
memilih dan memilah kepada siapa ia akan bertengger. Semua bergantung pada Sang
Empunya, kepada siapakah hendak Dia titipkan sebuah cahaya bernama hidayah itu.
Berkat kreativitas guruku di TPA, tetanngga-tetangga kami merasa terenyuh saat
melihat dengan sabarnya guru kami setiap pagi menyusul untuk berjamaah.
Sehingga mereka kini pun ikut meramaikan masjid. Itulah hidayah dia menyapa
hanya pada orang membuka pintu mengusir
gelap.
Aku merasa senang
hidup dikelilingi guru-guru yang luar biasa. Ketika aku duduk di kelas 9 SMP
aku sempat merasa aneh dengan seorang guru yang tak pernah marah meski kami
pernah mencoba membuatnya marah. Guruku ini justru hanya tersenyum. Dikatakanya
suatu kali bahwa kelak diantara kami para muridnya akan ada In Sha Allah
yang menuntunnya melalui titian Shiratul Mustaqim, lalu mana mungkin ia setega
itu memarahi kami. Ketika itu juga aku sadar
hakikat dari mengajar yang sesungguhnya. Bukan tentang ilmu, bukan juga
tentang besarnya tunjangan, tapi tentang pertanggung jawaban dan keikhlasan.
Hati ini mendapat suntikan baru menjelang kelulusan.
Di SMA sungguh
belum kutemukan satu hal pun yang menarik, tak ada yang benar-benar mampu
menyentuh hatiku hingga terenyuh dan membuatku mengingatnya. Pun dengan para
guru yang kutunggu keluwesan hatinya. Aku hanya merasa hampa. Tak lagi
kutemukan pelajaran kehidupan yang kutemukan di SD dan SMP, yang kutemukan di
SMA hanya target yang harus diselesaikan. Aku merasa menjadi robot, manusai tak
merdeka. Aku hanya berharap kelak mungkin dua tahun mendatang akan kutemukan
sesuatu yang luar biasa dari SMA-ku SMAN 2 Bandar Lampung yang dapat membuatku
mengingatnya hingga akhir hayat. In sha Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar