Apa Yang Terjadi?

Pencemaran
di TPA Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.
Pada hari Senin
tanggal 1 Mei 2014, sekitar pukul 17.00 penulis melakukan observasi ke Tempat
Pembuangan Akhir Bakung, Bandar Lampung. Perjalanan dari rumah penulis sekitar
15 menit dengan kendaraan bermotor.
TPA Bakung berada
agak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan dikelilingi pepohonan besar dan
hutan, tak banyak yang menyangka ternyata di dalam sana terdapat TPA yang sudah
tercemar.

Perjalanan
menuju TPA Bakung
Ketika sampai di
pintu gerbang TPA, penulis sudah disambut dengan tumpukan limbah dan bau yang
sangat menyengat. Meski hari sudah hampir petang, di sana masih terdapat banyak
orang dengan segala aktivitasnya. Banyak anak-anak kecil bermain di sana tanpa
tahu bahaya, penyakit serta kuman-kuman yang mengancam. Orang-orang dewasa
hilir mudik tanpa peduli bahwa mereka
sedang memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan.
Beberapa orang
terlihat sedang mengobrol santai seolah tak terusik dengan bau yang teramat menyengat
dari kubangan air disamping mereka yang sudah sangat menghitam.

Limbah
air

Limbah
Anorganik
Meski masih
terdapat banyak pepohonan dan semak-semak disekitarnya. Namun, dengan
bertambahnya jumlah sampah masyarakat Bandar Lampung kian harinya bisa saja 10
tahun ke depan kawasan ini menjadi gersang dan sangat berbahaya untuk di masuki
manusia. Apalagi dijadikan tempat bermain bagi anak-anak sekitar seperti saat
ini.
Sampah yang
menumpuk serta barang-barang anorganik yang bertaburan di TPA Bakung sebenarnya
menjadi mata pencaharian warga sekitar yang sangat menguntungkan. Banyak sekali
warga desa Bakung yang menggantungkan hidupnya dari tumpukan sampah yang
terlihat tak berguna ini. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengepul sampah
dan pemulung. Namun, justru dari pekerjaan inilah taraf ekonomi mereka
meningkat.
Apa Tanggapan Masyarakat?
Tak ada yang suka tinggal di tempat pembuangan sampah. Lebih-lebih
jika bermain di tumpukan sampah seperti anak-anak desa Bakung. Tapi, bagi
mereka sampah bak sahabat yang peduli terhadap perut mereka, justru disaat
orang-orang merasa jijik terhadap apa yang mereka lakukan.

Dengan sampah,
para kepala keluarga desa Bakung menghidupi sanak keluarganya. Berusaha
meningkatkan taraf kesejahteraan dengan menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan
sampah yang masuk sekitar 5000 ton per pekannya ini pula, mereka dapat sedikit
menabung untuk masa depan.
Normalisasi yang
dilakukan pada tahun 2011 seolah tak menyisakan apa-apa saat ini. Normalisasi
yang saat itu menyisakan sekitar 3 gunungan sampah kini sudah kembali penuh
dengan gunungan yang menyatu antara satu dan yang lainnya.
TPA Bakung
dicanangkan akan tetap digunakan hingga 17 tahun medatang, itu artinya akan ada
penumpukan sampah sekitar 5.200.000 ton sampah dari 13 kecamatan di Bandar
lampung pada tahun 2031. Itupun jika
tidak ada peningkatan volume per minggunya.
Pencemaran TPA
Bakung yang memiliki luas sekitar 14,2 ha ini juga menyulut komentar dari
beberapa lapisan masyarakat sekitar. Beberapa orang merasa terganggu dengan
aroma busuk yang menyebar. Lebih-lebih jika musim hujan tiba. Namun, lagi-lagi
demi menghidupi keluarganya dari tumpukan sampah ini mereka rela menahan bau
busuk yang sangat menyengat dan terjun langsung mengais rezeki diantara
gunungan sampah.
Apa
Usaha Pemerintah Untuk Menanggulangi Pencemaran?
“Kami memperoses sampah-sampah
organik menjadi kompos, tapi saat ini mesin dan bangunan sedang direnovasi,”
ungkap salah satu petugas TPA Bakung, Suhaedi.
Terkait bau busuk yang amat menyengat,
Suhaedi memaparkan bahwa pihaknya sudah meminimalisir dampak tersebut dengan
membuat tanggul penahan, supaya ketika musim hujan tiba, air limbah tidak
meluas kemana-mana agar tidak seperti pada tahun 2012 lalu yang saat itu,
tanggul TPA Bakung sempat jebol karna tidak kuat menampung beban sampah yang
meluap karna hujan.

Apa
Usaha Masyarakat Untuk Meminimalisir Pencemaran?
Sampai
saat ini belum ada usaha nyata dari masyarakat sekitar untuk meminimalisir
pencemaran. Hal ini dikarenakan:
1.
Kurangnya penyuluhan
terhadap pentinganya kebersihan lingkungan.
2.
Rendahnya
pendidikan yang dikenyam masyarakat sekitar TPA.
3.
Tidak adanya
rasa simpati berlebih terhadap lingkungan.
4.
Berpikir bahwa
TPA adalah satu-satunya ladang rezeki, sehingga mereka merasa sah-sah saja terhadap
pencemaran lingkungan.
Apa Usul Penulis Terhadap Penanggulangan Pencemaran Di TPA Bakung?

Di Jepang, sampah
mendapat perhatian khusus diantarnya adanya sistem pemilahan terhadap jenis
sampah. Apabila seseorang hendak sampahnya diangkut oleh petugas kebersihan ia
harus memisahkan sendiri sampahnya menurut jenis yang diteteapkan pemerintah.
Misal, sampah botol dengan botol, kaleng dengan kaleng, plastik dengan plastik.
Jika ia tidak memisahkan sampahnya sendiri maka sampah itu tidak diangkut
hingga berhari-hari dan menyababkan bau busuk disekitar rumah sang emnpunya.
Hal ini akhirnya dapat memberikan efek jera dan malu terhadap tetangga sekitar
rumah.
Di Jepang
sampah dibagi menjadi 4 :
·
Sampah bakar
·
Sampah tidak
bakar
·
Sampah daur
ulang
·
Sampah besar
Khusus untuk
minyak, limbah minyak dijadikan gel.
Lalu sisa pembakaran sampah dijadikan pelapis jalanraya dan sumber
pembangkit listrik. Lalu sampah air disuling lalu dibuang ke sungai dalam
keadaan bersih.
Penulis berharap
suatu saat indonesia dapat melakukan hal yang sama seperti di Jepang,
memanfaatkan sampah seoptimal mungkin.

PENCEMARAN
TPA BAKUNG
Anggota :
Mela
Rahmadani
Rewinda
Kris Wulan Sari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar