Jumat, 30 Mei 2014

Makna Sampah di Sudut Kota



Apa Yang Terjadi?
10bakung.gif
Pencemaran di TPA Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.

Pada hari Senin tanggal 1 Mei 2014, sekitar pukul 17.00 penulis melakukan observasi ke Tempat Pembuangan Akhir Bakung, Bandar Lampung. Perjalanan dari rumah penulis sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor.
            TPA Bakung berada agak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan dikelilingi pepohonan besar dan hutan, tak banyak yang menyangka ternyata di dalam sana terdapat TPA yang sudah tercemar.

foto0347_e2.jpg
Perjalanan menuju TPA Bakung

            Ketika sampai di pintu gerbang TPA, penulis sudah disambut dengan tumpukan limbah dan bau yang sangat menyengat. Meski hari sudah hampir petang, di sana masih terdapat banyak orang dengan segala aktivitasnya. Banyak anak-anak kecil bermain di sana tanpa tahu bahaya, penyakit serta kuman-kuman yang mengancam. Orang-orang dewasa hilir   mudik tanpa peduli bahwa mereka sedang memiliki tanggungjawab terhadap lingkungan.
            Beberapa orang terlihat sedang mengobrol santai seolah tak terusik dengan bau yang teramat menyengat dari kubangan air disamping mereka yang sudah sangat menghitam.

foto0336_e1.jpg
Limbah air
Foto0330_e1.jpg
Limbah Anorganik

            Meski masih terdapat banyak pepohonan dan semak-semak disekitarnya. Namun, dengan bertambahnya jumlah sampah masyarakat Bandar Lampung kian harinya bisa saja 10 tahun ke depan kawasan ini menjadi gersang dan sangat berbahaya untuk di masuki manusia. Apalagi dijadikan tempat bermain bagi anak-anak sekitar seperti saat ini.
            Sampah yang menumpuk serta barang-barang anorganik yang bertaburan di TPA Bakung sebenarnya menjadi mata pencaharian warga sekitar yang sangat menguntungkan. Banyak sekali warga desa Bakung yang menggantungkan hidupnya dari tumpukan sampah yang terlihat tak berguna ini. Sebagian dari mereka bekerja sebagai pengepul sampah dan pemulung. Namun, justru dari pekerjaan inilah taraf ekonomi mereka meningkat.

Apa Tanggapan Masyarakat?

          Tak ada yang suka tinggal di tempat pembuangan sampah. Lebih-lebih jika bermain di tumpukan sampah seperti anak-anak desa Bakung. Tapi, bagi mereka sampah bak sahabat yang peduli terhadap perut mereka, justru disaat orang-orang merasa jijik terhadap apa yang mereka lakukan.

foto0337_e1.jpg
            Dengan sampah, para kepala keluarga desa Bakung menghidupi sanak keluarganya. Berusaha meningkatkan taraf kesejahteraan dengan menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan sampah yang masuk sekitar 5000 ton per pekannya ini pula, mereka dapat sedikit menabung untuk masa depan.
            Normalisasi yang dilakukan pada tahun 2011 seolah tak menyisakan apa-apa saat ini. Normalisasi yang saat itu menyisakan sekitar 3 gunungan sampah kini sudah kembali penuh dengan gunungan yang menyatu antara satu dan yang lainnya.
TPA Bakung dicanangkan akan tetap digunakan hingga 17 tahun medatang, itu artinya akan ada penumpukan sampah sekitar 5.200.000 ton sampah dari 13 kecamatan di Bandar lampung pada tahun  2031. Itupun jika tidak ada peningkatan volume per minggunya.
Pencemaran TPA Bakung yang memiliki luas sekitar 14,2 ha ini juga menyulut komentar dari beberapa lapisan masyarakat sekitar. Beberapa orang merasa terganggu dengan aroma busuk yang menyebar. Lebih-lebih jika musim hujan tiba. Namun, lagi-lagi demi menghidupi keluarganya dari tumpukan sampah ini mereka rela menahan bau busuk yang sangat menyengat dan terjun langsung mengais rezeki diantara gunungan sampah.


Apa Usaha Pemerintah Untuk Menanggulangi Pencemaran?
         
            “Kami memperoses sampah-sampah organik menjadi kompos, tapi saat ini mesin dan bangunan sedang direnovasi,” ungkap salah satu petugas TPA Bakung, Suhaedi.
            Terkait bau busuk yang amat menyengat, Suhaedi memaparkan bahwa pihaknya sudah meminimalisir dampak tersebut dengan membuat tanggul penahan, supaya ketika musim hujan tiba, air limbah tidak meluas kemana-mana agar tidak seperti pada tahun 2012 lalu yang saat itu, tanggul TPA Bakung sempat jebol karna tidak kuat menampung beban sampah yang meluap karna hujan.

2-bawah.jpg

Apa Usaha Masyarakat Untuk Meminimalisir Pencemaran?
          Sampai saat ini belum ada usaha nyata dari masyarakat sekitar untuk meminimalisir pencemaran. Hal ini dikarenakan:
1.      Kurangnya penyuluhan terhadap pentinganya kebersihan lingkungan.
2.      Rendahnya pendidikan yang dikenyam masyarakat sekitar TPA.
3.      Tidak adanya rasa simpati berlebih terhadap lingkungan.
4.      Berpikir bahwa TPA adalah satu-satunya ladang rezeki, sehingga mereka merasa sah-sah saja terhadap pencemaran lingkungan.


Apa Usul Penulis Terhadap Penanggulangan Pencemaran Di TPA Bakung?

foto0335_e1.jpg
            Di Jepang, sampah mendapat perhatian khusus diantarnya adanya sistem pemilahan terhadap jenis sampah. Apabila seseorang hendak sampahnya diangkut oleh petugas kebersihan ia harus memisahkan sendiri sampahnya menurut jenis yang diteteapkan pemerintah. Misal, sampah botol dengan botol, kaleng dengan kaleng, plastik dengan plastik. Jika ia tidak memisahkan sampahnya sendiri maka sampah itu tidak diangkut hingga berhari-hari dan menyababkan bau busuk disekitar rumah sang emnpunya. Hal ini akhirnya dapat memberikan efek jera dan malu terhadap tetangga sekitar rumah.
Di Jepang sampah dibagi menjadi 4 :
·         Sampah bakar
·         Sampah tidak bakar
·         Sampah daur ulang
·         Sampah besar
Khusus untuk minyak, limbah minyak dijadikan gel.
Lalu sisa pembakaran sampah dijadikan pelapis jalanraya dan sumber pembangkit listrik. Lalu sampah air disuling lalu dibuang ke sungai dalam keadaan bersih.
            Penulis berharap suatu saat indonesia dapat melakukan hal yang sama seperti di Jepang, memanfaatkan sampah seoptimal mungkin.














































397b6d49c676cb1ede0560f5fd5effddb4c19b12_full - Copy.jpg

PENCEMARAN TPA BAKUNG

Anggota :
Mela Rahmadani
Rewinda Kris Wulan Sari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar